Bimbel Dapat Menentukan Masa Depan Anak?

Bulan April ini tidak hanya diisi dengan semarak panggung politik Indonesia. Namun juga gelora pendidikan di negeri khatulistiwa ini. Tepat di awal bulan (1/4), adik-adik SMA/SMK sederajat telah menjalani ujian nasional. 

Tidak berhenti di situ, ujian juga akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya bagi yang sedang ingin mengikuti SBMPTN. Yaitu, sebuah tataran seleksi untuk dapat masuk ke perguruan tinggi (negeri dan swasta—ada jalur tesnya juga). Artinya, jadwal masyarakat Indonesia di bulan April sangat padat. Namun, tetap harus dijalani dengan penuh semangat dengan keterbukaan. Artinya, kepala kita tetap harus segar, walau segala beban kehidupan terus menggelayut.

Terkhusus pada bidang pendidikan, kita tidak bisa lepas dari upaya untuk pencerdasan bangsa. Sangat penting bagi kita untuk selalu memiliki generasi penerus yang cerdas. Karena, dengan modal itu, masa depan negeri akan dapat diikhlaskan untuk dikelola oleh para penerus tersebut. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah cukup pendidikan bagi anak, cucu, dan adik-adik kita hanya dilakukan di lingkup sekolah?

Secara subjektif, penulis mengatakan bahwa itu sudah cukup.

Ada beberapa hal yang membuat pendidikan di lingkup sekolah sudah cukup, alias tidak perlu ditambah dengan bimbel atau les.

Pertama, adalah estimasi waktu untuk belajar. Belajar dari pukul 8 pagi sampai pukul 1 siang atau bahkan pukul 3 sore bagi yang akan menghadapi ujian, tentunya sudah cukup. 

Apapun upaya mencerdaskan generasi muda, tetaplah perlu diingat bahwa otak manusia tidak bisa terus-menerus digerus dengan kegiatan berat dan apalagi monoton. Perlu ada variasi, dan variasi itu harus diakali dengan pengelolaan waktu yang tepat. Salah satunya adalah mencukupkan durasi belajar dengan hanya mengandalkan pendidikan di sekolah saja.

Kedua, di luar sekolah, anak perlu melakukan kegiatan lainnya. Kegiatan yang dapat mengasah keterampilan maupun keberanian. Keterampilan ini bisa dikaitkan dengan intelektualitas, spiritualitas, maupun emosionalitas. 

Para anak dan remaja kita perlu memiliki waktu untuk mengasah ketiga hal itu. Karena dengan ketiga hal itu, anak dapat mulai mempelajari dan memiliki modal untuk membangun moralitas. Pintar saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kemapanan moralnya bukan? Apalagi jika tinggal di negara yang memiliki akar budaya sekuat Indonesia. Tentunya hal ini penting, dan ini terkadang tidak terlalu dioptimalkan di sekolah. Untuk itulah, perlu dilakukan di luar sekolah.

Lalu, apa yang bisa dilakukan anak saat mencoba membangun ketiga hal tadi? Salah satunya adalah bermain game.

Lhoh? Bukankah bermain game itu akan membuat si anak malas, bodoh, dan lain sebagainya? Tidak.

Selengkapnya : Kompasiana.com

Leave a Reply